oleh

Hutan Lindung Gundul,Aparat Tertidur dan Mafia Kayupun Makmur

Tanah Karo,Agaraanews.com,..
Menindak lanjuti temuan Tim Media ini dilapangan,yang mana pada Tanggal 05/1/2021 pukul 11.30.Wib terlihat dikawasan Hutan Tahura/BB tepatnya sebelum Tugu Kuliki,Jalan Jahe perbatasan Kabupaten Karo-Langkat kami melihat sebuah truk sedang memuat kayu yang sudah menjadi Broti/Papan yang keluar dari kawasan hutan lindung Tahura/BB.

Temuan itu langsung kami laporkan kepihak Polsek Sei Binge,mengingat truk mengarah kearah Kabupaten Langkat,tapi pesan dari WA baru dijawab esok harinya,sedangkan ketika kami mau melaporkan ke Polsek Simpang Empat Kabupaten Karo,melalui Kanit puluhan kali ditelpon tidak diangkat,mungkin para aparat sedang tertidur pulas,karena memang para mafia ini bergerak ditengah malam yang sunyi.

Untuk itulah maka pada Hari Kamis 07/1/2021 siang,tim mencoba mengkomfirmasi temuan tersebut kepihak Dinas Kehutanan Tahura/BB ( KUPT ) yang ada di Kabupaten Karo. Dikantor KUPT dikarenakan Kepala KUPTnya baru pensiun,maka kami disambut oleh, Fendi.P.Siadari,SP selaku Kasi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan dan Asido Munte,SH selaku Kasi Perlindungan Hutan dan KSDA.

Pada saat itu Fendi menjelaskan,jika perambahan hutan dikawasan hutan lindung Tahura yang berbatasan dengan TNGL tersebut sudah lama direncanakan akan direboisasi,namun…dikarenakan ada surat dari Pemkab.Karo dengan Nomor.361/1381/BPBD/2017 kepada Kepala Dinas Kehutan Provinsi Sumut,yang meminta penundaan operasi pengosongan lahan,menunggu proses program relokasi bagi masyarakat pengungsi Desa Sukanalu dan Sigarang-garang Kec.Naman Teran dimaksud,kami mohon agar kiranya jadwal pelaksanaan operasi pemulihan kawasan hutan dimaksud dapat ditunda,surat tersebut ditanda tangani wakil Bupati Karo a/n : Cory Sebayang.

Lebih lanjut Fendi mengatakan,selain itu kami juga keterbatasan anggota,untuk masuk kekawasan itu sangat berbahaya,dan kalau kami datang mereka menghentikan kegiatan. Akan tetapi bukan berarti kami tidak bekerja,pernah kami tangkap perambah disana berikut barang bukti truk,beko dan shimsaw tapi kasusnya malah tindak ditindaklanjuti oleh Polres dan Kejaksaan dikarenakan katanya tidak cukup bukti ( P-19 ),ungkapnya.

Sementara itu Asido juga mengatakan,kami perlu dukungan dan kerjasama dari Pemkab setempat dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Karo,tapi dukungan itu tidak ada,bahkan pernah juga waktu Kapoldasu datang bersepeda tahun kemaren,kami juga sudah sampaikan minta bantuan pengamanan,lagi-lagi hanya berhenti sampai disitu saja,ujar Asido.

Namun demikian kami tetap berusaha untuk menyikapi laporan kalian,kami akan minta bantuan kepada Dinas Kehutanan Sumut agar bisa membantu menurunkan anggota dalam operasi dan pengawasan hutan di Jalan Jahe,karena memang diduga perambahan kayu disana sudah masuk kerana mafia-mafia kelas kakap,jadi kami harus berhati-hati,tutupnya.

Lia Hambali/Tim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed