oleh

Oknum Hakim PN Kutacane Bertikai Dengan Juru Parkir Rumah Sakit Nurul Hasanah Minta Uang Damai 30 Juta

-AGARA, HEADLINE, HUKUM, KUTACANE-30314 Kali Dibaca

 

Kutacane (Agara News)  Seorang Oknum Hakim PN Kutacane ketika mengantarkan istrinya ke rumah Sakit Nurul Hasanah Sabtu, 2 Mei 2020 dimana Oknum Hakim berinisial AK memarkirkan kendaraannya ditempat yang bukan parkir umum dan menghalangi jalannya Ambulance. Saat itu juga juru parkir memanggil satpam untuk menegur pemilik kendaraan yang parkir dihadapan Mobil Ambulance tersebut supaya pemilik kendaraan memindahkan kendaraannya ketempat parkir umum. Ketika sang pemilik dating satpam menghampiri dan menegur supaya kendaraannya dipindahkan ketempat parkir umum. Sang pemilik kendaraan malah marah-marah sembari menghardik juru parkir dan satpam dan mengucapkan siapa kamu dan kamu belum kenal aku, juru parkir menjawab saya tidak perlu kenal kamu dan aku pun tidak perlu kau tau yang penting kendaraanmu pindahkan ujar juru parkir. Setelah terjadi argument saling mengeluarkan kata-kata keras dan merasa Oknum Hakim tersebut merasa terhina sehingga melaporkan pertikaian ini kepihak Kepolisian dengan Nomor : STPL/121/V/2020/ACEH/RESAGARA tanggal 2 Mei 2020.

Dengan adanya laporan Oknum Hakim tersebut Pihak Rumah Sakit mencoba melakukan mediasi kekeluargaan dan langsung Direktur RS Nurul hasanah langsung menemui Oknum Hakim tersebut minta maaf atas nama Rumah Sakit Nurul Hasanah dan atas nama pribadi namun tidak mendapat respon yang baik.

Tidak hanya disitu saja upaya pihak rumah sakit untuk melakukan perdamaian sesuai dengan mencoba adat istiadat di bumi Sepakat Segenap dan tertuang dalam Qanun No. 9 Than 2008 tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat maka pihak rumah sakit pada hari sabtu 9 Mei 2020 mengutus perangkat Desa dari Desa Batu Mbulan Asli dan Desa Mbarung untuk menemui Oknum Hakim tersebut melakukan negosiasi Perdamaian dalam pertikaian antara Oknum Hakim dan Juru Parkir namun hasil yang didapat sia-sia, dimana Oknum hakim tersebut mengatakan atau mengucapkan kalau mau berdamai tinggalkan dulu uang 30 juta untuk serahkan dan dibagi ke Mesjid.

Dilain waktu pada saat Oknum Hakim tersebut datang lagi membawa istrinya berobat ke RS Nurul Hasanah dimana Direktur Rumah Sakit bertemu dengan Oknum Hakim diteras Rumah Sakit dan Pihak Rumah Sakit mencoba mengulangi permintaan perdamaian atas kejadian yang terjadi dengan juru parkir namun jawaban yang didapat adalah kalau mau berdamai coba dulu dia merangkak dari pintu gerbang sampai teras rumah sakit lalu mencium kaki istri dan anak saya, baru saya pertimbangkan. Pada tanggal 13 Mei 2020 telah terbit pemberitaan di tiga media yaitu : 1. Harian siber.com diancam bunuh, Hakim PN Kutacane Lapor Polisi, 2. Waspada Aceh Hakim PN Kutacane diancam bunuh, lapor kepolisi, 3. JOERNAL INAKOR Hakim Arief Kurniawan PN Kutacane diancam bunuh. Dalam stateman Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara Muhammad Saleh menanggapi Permasalahan ini mengatakan, ada dugaan pengancaman ini berkaitan dengan perkara yang ditangani oleh Hakim Arif, tidak mungkin ujuk-ujuk tanpa sebab orang melakukan pengancaman apalagi ancaman tersebut mau membunuh dihadapan anak dan istri kata Saleh.

Dimana dalam pemberitaan tiga media tersebut dan tanggapan dari Bupati Lira. Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Aceh Perkumpulan Pemantau Pembangunan Indonesia (DPD PPPI) Marzuki Beruh bahwa pemberitaan ini adalah berita sepihak, dimana dalam pemberitaan tersebut bahwa Oknum Hakim AK adalah Hakim Bijaksana dan berintegritas, namun kalau kita simak pemberitaan itu dan sesuai dengan keterangan dari Oknum Perangkat Desa bahwa juru Parkir tersebut mau diajak berdamai harus membayar 30 juta dan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Direktur Rumah Sakit bahwa Oknum Hakim tersebut meminta Juru Parkir tersebut merangkak dari gerbang sampai teras Rumah Sakit, dimana hati seorang Hakim bijaksana melakukan hal sedemikian ujar Marzuki mengakhiri pembicaraan.

Untuk melakukan pemberitaan berimbang dalam kejadian pertikaian Oknum Hakim dan Juru Parkir dimana aktivitis Aliansi Indonesia dan Perkumpulan Pemantau Pembangunan Indonesia (PPPI) mencoba konfirmasi tentang pemberitaan di tiga Media tersebut namun Sang Oknum Hakim tidak dapat ditemui sampai berita ini diturunkan (TIM)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed