oleh

Warga Kecamatan Gunung Meriah -Simpang Kanan Mendesak Pemkab Setujui Pelepasan Lahan HGU PT Socfindo perkebunan lae Butar.

Aceh singkel: Agara News.com-
Perwakilan masyarakat dari dua Kecamatan (Gunung Meriah – Simpang Kanan) surati Pemkab Aceh Singkil mengenai permintaan pelepasan areal lahan Perkebunan Kelapa Sawit milik PT. Socfindo Lae Butar.

Hal ini dilakukan karena dalam beberapa Desa yang bersebelahan langsung dengan perusahaan, dimaksud seperti : Desa/Kampung Tunas Harapan tidak memiliki fasilitas umum misalnya, fasilitas kesehatan (poliklinik), pendidikan (gedung sekolah), tempat ibadah dll, dikarenakan tidak memiliki lahan. Ketika Awak media ini, Agara News
com mengkompirmasi M.Damanik) di kantor ruangan kerjanya 19/12/2020 )menyebutkan.-

Seperti yang saya sampaikan secara Umum disini saya tidak bermuatan berkepentingan peribadi akan tetapi kenyataannya Masyarakat sangat mengharapkan pungkas M.Damanik-Red) (panggilan sehari-hari sebagai warga Desa Tunas Harapan yang juga sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia-Bandan Advokasi Indonesia (LPK-RI B.A.I) DPW Aceh, mengungkapkan kepada pemerintah kabupaten aceh singkel.bahwa saat ini sekitar 16 desa dari dua Kecamatan tersebut meminta agar sebagian areal lahan-

HGU PT. Socfindo Prekebunan Lae Butar agar diserahkan kepada pemerintah desa setempat masing-masing.

“Kami juga sudah menyurati pemerintah Daerah ditujukan kepada Bupati Aceh Singkil,Pak Dulmusrid,agar areal lahan HGU PT. Socfindo Kebun Lae Butar sebagian bisa dilepaskan untuk fasilitas umum desa,” kata Damanik, Sabtu (19/12/2020).
M.Damanik menambahkan.,
Hal ini menurut Damanik, karena ada desa yang tidak memiliki lahan lebih untuk pembangunan fasilitas umum seperti yang telah sisebut diatas.

“Di Desa Tunas Harapan tidak ada lahan lagi, untuk membangun fasilitas tersebut. Sementara Masjid yang ada sudah mau Ambruk,di karena bangunan Masjid dibangun dibibir jurang. Tanahnya yang sudah tidak dapat di pertahankan walaupun dibut beronjong. juga sudah tidak memungkinkan kondisi lokasi Mesjid dimaksud mengakibatkan Masjid mengalami keretakan dan lantainya pecah-pecah. Kami sangat khawatir akan terjadi hal yang tidak kita inginkan (longsor),” tuturnya.

“Belum lagi desa yang lain memiliki kasus serupa. Jadi kami Berharap kepada pemkab Aceh Singkil Menanggapi permintaan Masyarakat Sebelum Hak Guna Usaha HGU) di perpangjang.oleh PT. Socfindo Perkebunan Lae Butar pada tahun 2023 nanti, bisa mengamini permintaan masyarakat,” lanjutnya.

Dan,- “Tujuan kita jelas. Semakin perkembangan jaman tentu lahan semakin menyempit.Dikernaka padanya penduk dimasa jaman sekarang hal yang wajar pemerintah Daerah wajib menanggapinya Jadi solusi inalah pemkab mengamini permintaan masyarakat tersebut,” ungkapnya M.Damanik.

( Sm )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed